Archive for October, 2008

MESKI SEDEKAH ITU SEDIKIT

Wednesday, October 22nd, 2008

This story is dedicated for My Lovely Mom, n one of My Best Friend, Vina…

Kamis itu, 9 Okt 2008… Saya berniat ke kampus, tepatnya masjid Mambaul Ulum untuk mengikuti acara halal bi halal Forum Komunikasi Islam-FK. Sekalian juga ketemuan sama Vina, buat ngajak dia nginep di rumah coz hari Jum’at dan Sabtunya kita memang mau ke Cinangneng, Bogor mengikuti acara Mitra Karya 2008—sejenis acara baksos dan turun ke lapangan. Rencananya, kita berdua ke sananya dari rumah Saya, di Panaragan, Bogor. Nggak deket tapi juga nggak jauh dibanding harus dari Jakarta. Sekalian juga niatnya, menutup liburan Lebaran dengan wisata kuliner kecil-kecilan di Bogor.

Sekitar jam 11 siang, Saya menuju stasiun. Biasanya sih ke Terminal Baranang Siang, dan naik Bis AGRA MAS. Tapi, ade cuma mau nganterin sampe stasiun. Kalau ke terminal harus naik angkot lagi. So, mending naik kereta dan lanjut angkot S02. Tadinya mau naik kereta ekonomi yang harga tiketnya Rp.2000,- ajah sampai ke Lenteng Agung. Lagian, kalau siang-siang , kereta yang biasanya berjubel itu, kosong dan leluasa. Murah pula… Tapi, kebetulan juga, ada jadwal kereta AC Ekonomi yang tiketnya Rp.6.000,-. Saya pikir pengen yang agak nyamanan, jadi Saya beli tiket AC Ekonomi itu deh…

Jadwal AC Ekonomi yang terpampang kalau nggak salah Pukul 11.40, Saya waktu itu tiba di stasiun sekitar pukul setengah 12. Lumayan kan, bentar lagi. Tapi ternyata keretanya belum datang. Hingga pukul 12 lewat, kereta AC Ekonomi itu belum juga datang. Sementara sudah hampir 3 kali Kereta Ekspress Pakuan datang dan pergi meninggalkan stasiun Bogor itu. Begitu juga kereta ekonomi yang pergi dengan penumpang yang tidak banyak. Agak nyesel nggak beli tiket ekonomi. Kalau Ekspress Pakuan kan nggak mungkin berhenti di Lenteng Agung. (He… jadi pengen ke Gambir aja langsung…)

Hingga kedua jarum jam di tangan dan stasiun membentuk sudut yang menunjukkan pukul 12.25-an, Kereta AC Ekonomi itu pun tiba dan langsung diserbu oleh sejumlah penumpang yang sudah banyak menantinya. Saat menunggu itu, Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang mungkin sekitar 50-an beserta suaminya. Rasanya, senang yah, bisa menjalin silaturahmi melalui perbincangan biasa itu. Dan saat menaiki kereta AC Ekonomi itu, Saya agak hopeless bisa dapat bangku duduk. Yah, gara-gara kedatangan terlambat itu, penumpangnya jadi membludak. (Ngaruh nggak sih?? He…) Ya, gara-gara bawa tas travel, Saya agak kesulitan menaiki kereta yang miss-jalurnya… He… untung lagi pake celana panjang… Makanya, pas berhasil naik, bangkunya kok jadi penuh ya… Tapi, Subhanallah… Bapak dan Ibu tadi melambaikan tangannya ke arah Saya. Mereka meluangkan sebuah tempat buat Saya. “Terima kasih Pak, Bu…” seulas senyum Saya dapatkan dari mereka.

Saya pun duduk di sebelah mereka. Kereta masih belum jalan. Sejumlah pedagang silih bergantian mengasongkan dagangannya. Saya melirik ke arah penjual accessories dan berniat membeli ikat rambut yang harganya seribuan. Saya melihat uang di saku Saya, ribuannya cukup pas-pasan buat ongkos pergi ke Pondok Labu. Kalau untuk membeli sebungkus doank sih masih cukup lah… But No More…

Selain pedagan asongan, para pengemis juga tidak kalahnya berseliweran di kereta yang belum juga berangkat itu. Dan ada seorang pengemis yang datang dari arah kiri Saya. Jalannya tertatih. Kakinya cacat karena kelainan fisik. Setiap mendapatkan uluran tangan dari orang, pengemis itu selalu mengucapkan terima kasih dengan ringan didengarnya. Saya lalu merogoh saku depan Saya. (Saya tidak bermaksud menceritakan hal INI tapi, nanti ada sesuatunya yang ingin Saya share…)
Duuh… recehannya, ada gope-an dan 200-an. Tapi, itu pastinya pas juga buat angkot nanti. Entahlah, Saya rasa, uang yang Saya berikan itu adalah kepingan Rp.200,- Dan Pengemis itu wajahnya begitu hangat dengan ucapan terima kasih yang seoalah sangat berterima kasih. Itu membuat Saya merenung sesaat dan agak menyesal memberi terlalu dikit. Tapi, Saya juga nggak mau gambling karena memang dompet kecil khusus receh Saya nggak kebawa. Yang ada di saku depan hanya uang yang benar-benar buat ongkos sampai Pondok Labu.
“Ya Allah, maafkan Saya yah…” ucap Saya lirih.

Sesaat sebelum kereta berangkat, seorang ibu-ibu mungkin berusia 25-an, dengan wajah turunan Arab beserta putrinya yang sekitar 3-4 tahun duduk di antara Saya dan Pasangan Bapak-Ibu tadi. Anak perempuannya itu benar-benar terlihat seperti turunan Arabnya. Cantik. Ibunya juga. Dia terlihat agak terburu-buru. Dari pembicaraannya dengan seseorang di seberang handphonenya, ia tampaknya sedang janjian untuk bertemu.

Ketika kereta melaju dan hampir tiba di stasiun Cilebut, saat mendengar bunyi informasi dari stasiun tersebut mengenai kedatangan kereta AC Ekonomi dengan tiket Rp. 6.000,-, Ibu itu tampak terhenyak.

“Jadi, ini bukan Pakuan Ekspress?” Katanya sambil melihat lembar tiket Pakuan Ekspressnya yang seharga Rp.11.000,-
Selain harga yang bedanya lumayan, Keret AC Ekonomi kan berhenti di setiap stasiun kecuali di Gambir. Dan itu berarti akan sangat menyita waktunya yang sedang janjian itu.

“Iya. Kalau yang Ekspress yang tadi di jalur 2, Bu… Memang agak mirip. Oia, kalau nggak salah, yang Pakuan biasanya berhenti di stasiun Cilebut atau Bojong. Kadang-kadang tapi… Coba Ibu tanya ke petugasnya.” Kata Saya sambil menunjuk ke arah dua orang petugas yang baru saja memasuki gerbong tempat Saya itu.
Ibu itu pun berdiri dan menuju ke petugas tersebut sambil sebelumnya menitipkan anaknya pada Saya agar tidak kemana-mana. Sementara kereta sudah hampir berhenti di stasiun Cilebut, dan Saya mendengar informasi tentang kedatangan kereta Pakuan Ekspress juga. Wah, kayanya sih tuh kereta bakal berhenti di stasiun ini. Sayang, jarak ibu itu cukup jauh dari Saya. Ketika dia kembali, kereta sudah mulai melaju kembali meninggalkan stasiun Cilebut.
“Kata petugasnya, nanti Pakuan berhenti di Pondok Cina…” ucapnya sambil duduk kembali.

Sepanjang perjalanan di sela telepon-teleponnya, ia bercerita, bahwa ia tengah janjian untuk bertemu calon suaminya yang datang dari Surabaya. Sekarang calon suaminya itu sudah menunggu di Stasiun Kota. Padahal dia sudah buru-buru minta izin dari kantornya, tapi justru harus salah naik kereta. Owh… berarti, statusnya janda. Tapi kalau cantik sih, gampang yah dapet jodohnya lagi, pikir Saya saat itu.
Pikiran Saya juga jadi sibuk sendiri. Manis yah, jauh-jauh datang untuk menemui calon pasangannya. Ini mungkin yang namanya kesungguhan. Saya jadi berpikir, apa Saya sudah menemukan sosok yang bersungguh-sungguh itu untuk Saya? He… tapi Saya sendiri apakah sudah bisa bersungguh-sungguh kepada seseorang ya… Ups!!! Ini bukan halaman untuk cerita itu…Heheh…

Di stasiun Depok, kereta Pakuan Ekspress yang tadi belum berangkat ternyata sudah menyusul. Ibu tadi jadi ragu untuk turun di Pondok Cina. Belum tentu Kereta Pakuan akan cepat datang lagi. Apalagi memang belum lewat yang dari arah Utara. Lagipula perbedaannya hanya sekita dengan setengah jam-an jika ditempuh dengan Ekonomi AC. Jadi, ibu itu pun memutuskan untuk tidak turun dari kereta. Ia mengabarkannya kepada calon suaminya yang sudah menunggu itu. (Aaahhh…calon suami…manakah??? hehehe…)

Tiba di Stasiun Lenteng Agung, Saya pun turun. Lalu naik angkot S02 dan disambung angkot yang menuju Cinere. Lumayan rumit, tapi memang harus begitu rutenya. Setibanya di kosan di Kompek TNI AL itu, ternyata sedang ada acara halal bihalal yang diselenggarakan Ibu kosan Saya yang merupakan seorang petinggi di Dinas Kesehatan Pusat. Saya hanya menitipkan tas Saya kepada penjaga rumah. Dan Saya menuju acara halal bi halal di masjid kampus. Hmm… lumayan, setibanya di sana, nggak telat-telat amat. Dan lumayan juga bisa ketemu beberapa saudara-saudari Saya, termasuk Vina. Hampir pukul 3, Saya dan Vina pamit. Kami ke kosan Saya untuk mengambil beberapa barang dahulu. Acara halal bi halal di rumah kuning itu pastinya sudah selesai.

Benar, acaranya memang sudah selesai. Dan tante langsung menyuruh Saya dan Vina untuk makan dulu. Tapi, saat itu Vina mau sholat Ashar dulu. Ya… saat itu Saya masih berhalangan. Saya lalu menemui Om untuk meminjam kunci cadangan kamar baru Saya yang berdua Nadia, karena kuncinya sedang dipegang Nadia. Tapi, Ya Allah, ternyata duplikatnya tidak ada di tangan Om. Kalau kunci kamar lama Saya masih beliau pegang. Dan Saya pun memutuskan untuk masuk ke kamar lama Saya yang masih belum diisi oleh penghuni baru itu. Saya mengambil seprai dan melipat-lipatnya asal masuk ke dalam tas gendong Saya. Yah, habisn nggak ada yang bisa dibawa lagi. Sejumlah buku yang mau Saya bawa pulang ke Bogor ada di kamar baru Saya. (Saya dan Nadia jadi berdua ngekosnya, coz kita juga ngontrak di Gambir… Coz kuliah kita emang masih bolak-balik Gambir-RSPAD-Labu…)

Dan kami pun makan sajian yang sudah disiapkan Tante, sambil berbincang-bincang dengan Om tentang Jogja. Duuuh…jadi pengen kesana… Setelah makan, Saya pun pamit untuk pergi… (SMP yah…) Saya dan Vina pun langsung ke Ciputat, ke rumahnya Vina untuk mengambil barang-barang Vina dulu. Sebenarnya kita agak-agak miss communication. Vina pengen Saya nginep di rumahnya dulu, baru besoknya ke Bogor. Kalau Saya justru pengennya ke Bogor dari sore ini. Biar besok agak nyantai. Lagian udah terlalu sering Saya nginep di rumah Vina. Sekarang giliran dia yang nginep duong… Sambil packing, dari percakapan antara dia dan Mama-nya, Saya menangkap bahwa Mama Vina kurang menyetujui Vina buat bawa motor. Jauh juga kan Vin… Hingga Mamanya agak tegas mengatakan tidak memberi izin membawa motor itu, Saya heran, kenapa Vina tetep biasa aja. Malah Saya yang deg-degan. Saat Saya sudah menaiki boncengan Vina, baru saat itu Saya berkali-kali membenarkan posisi helm-nya Lucky yang pernah Saya pinjem dan belum sempat dikembalikan. Mamanya Vina juga mengambilkan jaketnya Vina untuk Saya pakai. Ya, jaket Saya semuanya ada di kamar baru Saya. Dan… kami pun berangkat.

Perjalanan yang agak gambling ditambah waktu yang terlalu sore, Saya hanya tahu, satu jalan lurus saja menuju Bogor. Kalau kata Vina, ada belokan yang biasa dilewati saat Out Bound.. Tapi kami tetep lurus. Hingga, masuk waktu Magrib dan sudah masuk pula kami ke kota Bogor…
Dan…
“Lho… kayanya ini di jalan… Lho… kok ada Toserba YOgya… Waaah.. Salah jalan…”
Kita memang nyasar, tapi nayasar di jalan yang cukup familiar buat Saya. Pantas, kok tidak lewat-lewat Atang Sanjaya dan RS KArya bakti, RSJ… Hmpfff…

“Vin, tanya ke petugas di belokan itu dulu. Aku apal jalan ini, tapi gelap, jadi ragu dimana belokannya…”
Petugas itu pun menunjukkan bahwa belokannya masih jauh di depan.

Kami kembali melaju dengan motor matic yang, yah…lebih enak naik motor non matic deh…
Saya terus memperhatikan ke arah kanan mencari belokan yang dimaksud. Saya sempat membenarkan posisi tas yang berisi laptop di pangkuan Saya. Dan jadi di pangkuan kanan Saya. Yah… berat ke kanan, nengok ke kanan, dan saat Saya melirik ke depan sesaat, melihat tambalan aspal… entah kenapa rasanya sangat menakutkan… dan… Saya merasa Vina kehilangan keseimbangan, tapi sebenarnya Saya yang goyang, dan Saya… jatuh…

Saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu, tapi Saya hanya merasa takut dan memohon pada Allah untuk menjaga Vina karena saat itu Saya melihat Vina terjatuh dari motornya dan sepertinya terseret.
Tapi, saat Vina bangun dan memanggil Saya, “Gin… lo nggak apa-apa…???”
Saya tidak langsung menjawab meski sebenarnya Saya lah yang ingin bertanya lebih dulu pada Vina, dan spontan keluar, “Vin, lo nggak apa-apa?”

Sejumlah percakapan sempat berlangsung sesaat di tengah jalan itu saat kami sudah terbangun. Saat itu, Saya melihat ke sekeliling, dimana sejumlag pengendara motor yang almost cowok or bapak-bapak itu menatap kami, entah lega karena kami baik-baik ajah, entah simpati, entah heran,…
Dan Saya baru sadar kalau Saya lagi di tengah jalan. Jatuh dari motor. Dan bagaimana dengan jasad Saya?? Apa ada mobil atau motor yang bisa menggilas Saya??? Saya langsung menatap ke bawah jalan dan memastikan jasad Saya tidak tergeletak di sana. Hiiiy… agak berlebihan. Tapi, berhubung Saya nggak merasa sakit apa-apa saat itu, Saya jadi merasa agak aneh. Cuma lecet luka panas di pergelengan tangan kanan Saya selurus ibu jarinya.

Dan Vina mengajak Saya untuk minggir, karena yah… moso iya kita ngobrol di tengah jalan. Tapi, dasar yah… nggak ada tim bantuan medis gituh… hehe…orang petugasnya yang luka yah…
Saat minggir itulah Saya baru mulai merasa nyambung dengan pertanyaan Vina, “Gin… lo ngantuk? Kalo ngantuk lo bilang, kita istirahat dulu…”
“Nggak. Gua nggak ngantuk. Orang gua lagi nengok ke kanan nyari belokan. Hmpfh… laptop gue kayanya nggak apa-apa deh. Gua sempet ngebalikin posisi baju di bawah. Karena gua nggak mau nih laptop kenapa-napa…”
Sesaat itu, Saya memperhatikan luka Saya yang hanya di pergelangan tangan itu. Dan Saya teringat ke Mama dan… pengemis di kereta tadi siang…

Mama… Mama pasi ngerasa sesuatu… ya Allah, tenangkan hati Mamaku… pintaku dalam hati…
Dan pengemis itu.. entah kenapa wajahnya, meski tak jelas, tapi kesannya masih dapat Saya tangkap. Ya Allah… kisah itu benar… Kisah dari masa kecilku tentang faedah bersedekah. Yang hanya Rp.200,- itu… Dulu ceritanya, ada seorang yang bersedekah Cuma Rp.100, - dan saat ada kecelakaan maut, hanya dia yang selamat dengan luka yang ringan… Dan hal itu… sekarang.. Engkau tunjukkan padaku Ya Rabb…

Pikiranku masih terus menggemakan tasbih sementara perjalanan kami sudah dilanjutkan kembali. Motor Vina jelas tampak lecetnya. Vina sendiri Alhamdulillah, lebih baik dari Saya keadaannya. Kami jadi melalui jalan Sudirman yang melewati Martabak Air Mancur.. (Jalan Sudirman kan yah??)
“Vin, coba deh perhatiin istana Bogornya. Dari sini kan keliatan gede yah, ntar makin deket jadi kecil loh…”
Hingga di depan persilangan jalan di depan gerbang istana Bogor, hal itu memang terbukti. Hehe…abis kecelakaan sempet-sempetnya yah intermezooo…

Sesampainya di rumah, hasil dari diskusi tadi, Saya nggak akan menceritakan langsung kejadian barusan sama Mama. Padahal, Saya ini anak yang nggak bisa NGGAK CURHAT sama Mamanya. Ini-itu pasti langsung cerita. Sampai saat kami nongkrong di teras depan sambil menghdap kolam ikan di depan rumah yang kata Vina sih kolamnya gede banget, apalagi gurame-gurame ndut itu…
Nah, saat itulah Mama melihat luka lecet terseret jalan di pergelangan tangan Saya itu.
“Cerita atuh. Masa kayak gini aja nggak mau jujur sama Mama…”
Dan akhirnya, cerita pun mengalir…

Mama lalu bilang, kalau saat Maghrib, tepatnya saat Mama melangsungkan sholat Sunnah tasbih, Mama merasa mendengar suara langkah kaki Saya menuju rumah. Tapi kok tidak masuk-masuk, padahal pintu depan tidak dikunci. Lalu pas sujud pertama, Mama mendengar suara Saya. Dan terulang di sujud yang kedua. Astaghfirullah…

Mama cerita, kalau ia langsung berdoa, menitipkan Saya pada Allah. Yah, ternyata perkiraan Saya bahwa kejadian tadi akan sampai juga ke Mama, benar. Bukan Saya suka yang bau batin-batinan begini. Tapi, Saya percaya kuatnya ikatan ibu dan anak yang Allah berikan kepada kami. Dan Saya jadi berpikir, jangan-jangan sesaat itu, ruh Saya memang terbang… Hiiiy… Mungkin, Saya sempat mati yah… Biasanya kan yang dateng ke rumah itu, ruhnya pamit… Hiiiy… Malem Jum’at lho… Subhanallah kalau Syahid apalagi sepanjang perjalanan Insya Allah, baca doa atau sholawat… Hehe… serem juga sih tapinya. Kan dosanya banyak pisan tuh…

Saya sendiri tidak terlalu ingat bagaimana Saya bisa jatuh dalam keadaan yang indah. Maksudnya, Saya nggak nyangkut, atau gimana gituh. Padahal kan posisi Saya posisi duduk cowok… bukan nyamping. Kayaknya jatuhnya benar-benar mulus dan ringan. Vina malah sempet bilang jatuhnya enak. Matanya yang ketutup helm nggak bisa melihat keadaan saat itu.
Memang Allah, Ya Muhaimin, masih menjaga kami. Khususnya Saya. Mungkin, tulang punggung Saya bisa patah. Tapi coba yah… Saya kan ngelipet sepreinya nggak rapih tuh, jadi tasnya penuh nggak jelas. Dan Saya juga nggak bisa bawa buku-buku. Jadi, punggung Saya itu… landasannya empuk. Subhanallah…

Saya dan Vina bilang kalau kita nggak ngerasa nyeri apa-apa. Tapi Mama bilang, bukan nggak nyeri. Belum… Biasanya sakitnya besoknya… Ya. Mama bukannya sok ngeramal tapi, Mama emang pernah ketabrak juga dan awalnya nggak apa-apa…

Keesokan paginya, yup… Kami—Saya dan Vina merasa separuh badan rasanya sakit. Khusunya bagian kanan. Kata Vina sih, sengkle ke kanan. Kalau Saya sih, rasanya, dua-duanya. Kanan dan Kiri. So that, rencana buat pergi ke tempat Baksos nggak jadi. Oia, hari Jum’at itu Saya juga diajak nengok Maya dan first babynya, Aisyah di Bandung. Tapi, karena rencana Saya dan Vina sudah lebih dulu dibuat, dan berhubungan dengan masa akhir Kepengurusan sebagai Presiden BEM FK, Saya memang sebaiknya datang. Tapi… setelah kejadian ini, rasanya nggak mungkin kita jalan ke Cinangneng. Apalagi kondisi fisik kita nggak baik juga. Kita pun akhirnya Cuma bisa jalan-jalan di putaran kebun Raya ajah.

Sebenarnya, pagi itu juga Saya mendapat sebuah kabar yang… membuat Saya masih merasa melayang, ngambang. Rasanya belum utuh nyawa Saya semenjak kejadian semalam, kabar pagi itu pun membuat Saya semakin limbung. Tidak… Saya tidak mau seperti Maria kepada Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Kalian tahu kan maksudnya??? Yaa… Saya punya pilihan untuk tetap menjadi gadis perpaduan Siti Khadijah-Siti Aisyah-Siti Fatimah.. (Are they that too high??? Well, Saya nggak punya sosok yang lebih layak diidolakan…)
Rasa sakitnya juga nggak jelas. Sakit.. Nggak… Biasa aja… tapi… lama-lama, rasanya perih… Syok lagi… PERHAPS…

Ah, Ya Allah… Kau Maha Tahu ada apakah di balik semua ini. Saya hanya yakin, bahwa Allah tidak akan menguji sesuatu yang tidak disanggupi hamba-Nya. Itu berarti SaYA KUAT. It’s just a little thing of life…
Meski, tiga harian Saya memang hampir kayak Maria… Lebayyyyy… yah???? Btw… background ceritanya nggak kayak AAC kok…

Hmm…malemnya, Saya sama Vina nonton Laskar Pelangi. Cukup menghibur. Saya memang belum membaca novelnya, karena, belum sanggup beli. Heheh…Tapi, jadinya, nggak terpengaruh sama novel saat nonton. Jadi nggak kayak AAC. Well, I enjoyed it. Especially, viewnya itu lho….Biru langitnya… pohon-pohon dan kesederhanaannya… Lukman Sardinya?? Hehehe… Just Kidding…

Setidaknya, Saya merasa sedikit lepas dari jejak kaki Saya yang rasanya berat itu. Dan akhirnya, Saya berpikir, katakan… Sesaat malam itu, Saya memang mati… dan Allah, masih memperkenankan ruh Saya kembali, Wallahu’alam karena sedekah kecil itu atau karena silaturahmi sebelumnya, Saya rasa, Allah masih punya hal-hal istimewa yang akan ditunjukkanNya dan dipercayakanNya kepada Saya. Wallahu’alam… Tapi yang penting, Yaa Allah, jangan tinggalkan Saya meski semuanya mungkin meninggalkan Saya. Jangan hentikan CintaMu kepadaku… Jangan biarkan hidup ini terisi kesiaan dan kefanaan belaka…

Aku ingin menjadi KEKASIHMu, Bukan Yang Lain…
Aku ingin menjadi KESAYANGANMu, Buka Yang Lain…
Aku ingin Berlari padaMu, Bukan Pada Yang Lain…

Akan aku katakan
Pelan, atau pun keras
ALLAH, aku mencintaiMu,
Aku membutuhkanMu,
Datanglah kepadaKu,
Semailah Cinta ini sebagai Cinta kepadaMu..

Aku tahu, Engkau Maha PEncemburu, dan mungkin ENgkau cemburu pada perasaanku kemarin. Dan Kau buat aku tuk menyadari, bahwa hanya Engkau yang akan selalu ADA Untukku
Bukan yang lain…

Allah sudah membuktikan bahwa sedekah sekecil apapun, Allah memandangnya
Kebaikan Sekecil zarah pun Allah mensyukurinya.
Dialah As Syakur…
Tidakkah kita yang seharusnya bersyukur karena Allah tak pernah lengah sedikit pun pada kita???
Adakah yang dapat membalas CINTA seindah Allah???
TIDAK, SAyang… TIDAK.
Adakah Penjaga terbaik selain Allah???
TIDAK.

Semoga dapat menjadi hikmah dan peajaran bagi semuanya.
Bila ada kekurangan, sungguh, Saya lah yang penuh cela. Dan Kebaikan itu hanya datang dari sisiNya.

Wassalam…

NB : Terima kasih untuk semua penyerta jalan hidup ini
Untuk Panitia Mitra KArya 2008, Mohon Maaf yah Kami tidak bisa datang…