AKU–bukan sebuah karya Chairil Anwar
Saturday, December 15th, 2007AKU
berulang kali kutatap diri di hadapan cermin
cermin biasa yang mungkin sedikit buram
namun aku tetap menatap sosok yang menghadapku itu
Dan..
kucoba bayangkan apa yang orang pikirkan jika mereka melihat aku
Aku yang SEPERTI INI
Apa yang mereka pikirkan tentang aku???
Aku ingin tahu
Meski semestinya aku tidak perlu memikirkan hal itu
Bukankah yang Tuhan lihat adalah suara hati
Bukankah yang Tuhan lihat bagaimana tangan dan kaki ini bergerak dan kemana
Aaaarhh!!!
Aku tetap ingin tahu!
Aku ingin tahu apa yang mereka pikirkan jika aku tersenyum di hadapan mereka
Aku ingin tahu apa yang mereka pikirkan jika aku menangis di depan mereka
Aku ingin tahu apa yang mereka pikirkan jika aku menyapa mereka dan menyentuh tangan mereka
Apa mereka akan lari jika mendengar suaraku?
Apa mereka akan menutup wajah mereka jika melihat aku?
Apa mereka akan pura-pura tersenyum agar aku tidak menyadari keresahan mereka saat melihatku?
Apakah mungkin mereka malah bahagia melihatku?
Apakah mungkin mereka justru merindukan kehadiran dan sapaku pada mereka, orang-orang yang aku panggil "Sahabat…"?
Apakah mungkin mereka senang saat dapat mengenal sosok di cermin yang tampak mempertanyakan bayangannya?
Ini yang Aku ingin lebih tahu!
Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan jika aku tersenyum di hadapannya
Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan jika aku menangis di depannya
Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan jika aku menyapanya dan menyentuh tangannya
Apa dia akan lari jika mendengar suaraku?
Apa dia akan menutup wajahnya jika melihat aku?
Apa dia akan pura-pura tersenyum agar aku tidak menyadari keresahannya saat melihatku?
Apakah mungkin dia malah bahagia melihatku?
Apakah mungkin dia justru merindukan kehadiran dan sapaku padanya, orang yang aku panggil namanya dengan rasa malu
Apakah mungkin dia senang saat dapat mengenal sosok di cermin yang tampak apa adanya?
Hhhh…
APakah aku cukup baik untuk dikasihi?
Apakah aku cukup hangat untuk dirindukan?
Apakah aku cukup pantas untuk menjadi kawanmu, kekasih?
Bayang-bayang di belakang ini kenapa kian pekat
Siapa yang mau menatap dalam kegelapan
Tapi ini kenapa semakin pekat
Semakin kuat menerkam hingga aku…
sakit…
Perih…
Aku takut…
Aku takut kau tidak akan menatapku lagi